Kamis, 24 Maret 2011

pondok peta

Luar Biasa, Haul Pondok Peta Tulungagung
Oleh : faizin

| 14-Jan-2008, 22:29:27 WIB

 Tulungagung, Kharisma  Kiai Mustaqim bin Hussein dan Kiai Abdul Djalil Mustaqim, pengasuh pondok pesantren Pesulukan Tareqot Agung (Peta) Tulungagung, Jawa Timur, tak juga surut meski keduanya sudah wafat. Nyatanya, ribuan santri tareqot dari berbagai penjuru Indonesia yang menjadi murid-muridnya, tetap saja berdatangan saat pondok tareqot ini menggelar haul, Minggu            
Tak pelak, peringatan haul KH. Mustaqim bin Huseein ke-38, KH Abdul Djalil Mustaqim ke-3 dan Nyai Sakdiyah ke-20 itu, benar-benar berlangsung luar biasa. Ribuan santri bukan hanya memadati kompleks pondok yang berlokasi di jantung Kota Tulungagung ini. Tapi, mereka juga membludak hingga memadati alun-alun dan jalan-jalan di kawasan pusat kota penghasil marmer itu.            
Selain menyedot perhatian para santri, haul Pondok Peta juga memberikan daya tarik tersendiri bagi para kiai maupun pejabat pemerintahan. Dalam haul kali ini, tampak hadir, Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Propinsi Jawa Timur, Soekarwo, dan Bupati Tulungagung, Heru Tjahjono. Dari kalangan kiai, terlihat KH. Chaedar Muhaiminan (putra KH. Muhaiminan), Habib Umar Muthohar, KH. Imron Jamil, dan DR. KH. Lukman Hakim.           
Yang istimewa lagi, dalam setiap haul, keluarga Pondok Peta selalu memberi sajian nasi kotak dan minuman air mineral kepada semua santri yang hadir meski jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Untuk keperluan haul, tak kurang sekitar 2.500 personil santri dikerahkan dalam kepanitiaan.
‘'Dalam haul kali ini, kami melibatkan sekitar 2.500 orang personil kepanitiaan,'' terang Moh Athiyah SH, wakil Bupati Tulungagung selaku wakil keluarga Pondok Peta. Rangkaian acara haul berlangsung sejak pagi hingga dini hari. Sebagai penutup haul digelar mauidzah (pengajian) yang disampaikan KH. Chaedar Muhaiminan dan Habib Umar Muthohar.Dalam mauidzahnya, KH Chaedar Muhaiminan maupun Habib Umar banyak mengupas seputar tareqot assadziliyah yang diajarkan KH.Mustaqim dan KH. Abdul Djalil.

‘'Walaupun beliau sudah wafat, ajaran tareqat yang telah diajarkan beliau harus tetap kita amalkan.Sekarang, peran Beliau diteruskan putranya, Gus Salahuddin Al Ayyubi,'' kata KH Chaedar Muhaiminan ini.            

Dalam kesempatan haul ini, keluarga Pondok Peta juga menghimbau para santri jamaah tareqot untuk melakukan gerakan tanam pohon. ‘'Bencana alam telah terjadi di mana-mana.Keluarga Pondok Peta menghimbau kepada semua santri di semua penjuru tanah air untuk melakukan tanam pohon. Pohon apa pun, silahkan ditanam,'' pinta Moh Athiyah menyampaikan pesan keluarga Pondok Peta.




KabarIndonesia - Tulungagung, Sudah 38 tahun silam, KH Mustaqiem bin Hussain berpulang. Sudah tiga tahun pula, putranya, KH Abdul Djalil Mustaqiem  yang meneruskan perjuangannya wafat. Namun begitu, ketokohan dan keteladanan dua kiai kharismatik dari pondok pesantren Pesulukan Tareqot Agung  (Peta) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, ini seakan tak pernah terputus.           

Santri yang menjadi pengikut ajarannya masih saja terus mengalir ke Pondok Tareqot yang berlokasi di Jl. KH. Wakhid Hasyim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Tulungagung ini. Faktanya, setiap setahun sekali dihelat peringatan haul, santri yang berdatangan ke pondok Peta benar-benar luar biasa. Pondok yang kini diasuh putra Kiai Abdul Djalil Mustaqiem, Charir Mohamad Sholahudin Al Ayyubi (Gus Saladien) itu sama sekali tak kehilangan daya magnetik-nya. Dalam haul yang digelar, Minggu (13/1/2007) kemarin, misalnya, puluhan ribu santri jamaah Pondok Peta dari berbagai pelosok Indonesia tumplek blek membanjiri Kota Tulungagung.

Ketokohan dan keteladanan KH Mustaqiem yang masih keturunan dari Mbah Penjalu itu agaknya tetap meninggalkan ‘goresan' tersendiri di kalangan santri tareqot yang menjadi pengikutnya. ‘'Setiap haul, keluarga kami pasti ke Pondok Kiai Mustaqim dan Abdul Djalil ini,'' tutur beberapa santri Peta dari Blora, Jawa Tengah.Tak tanggung-tanggung.Para santri dari luar propinsi itu datang ke Tulungagung sampai harus mencarter beberapa buah bus bersama jamaah Pondok Peta lainnya. Demikian pula santri dari luar Pulau Jawa, saat haul, mereka juga banyak yang datang ke Pondok Peta dengan berombongan.

‘'Kami datang dari Lampung.Setiap haul, kami mesti datang ke Pondok,'' kata serombongan santri dari luar Pulau Jawa itu menuturkan.Di kalangan santrinya, KH.Mustaqim maupun Kiai Djalil diakui sebagai sosok yang banyak memberikan keteladanan dalam mengajarkan ilmunya.Karena itulah, santri-santrinya juga tersebar luas ke seantero negeri.

Di sisi lain, kiai yang menjadi tokoh tareqot assadziliyah itu dalam perjalanan hidupnya memang memiliki banyak kelebihan sebagaimana sering diungkap dalam manakib-nya yang dibacakan setiap peringatan haul. ‘'Sejak kecil, KH Mustaqiem sudah punya sirri. Beliau juga punya khizib kahfi,'' kata KH Mudhofir Sukhaimi yang biasa membacakan manakib KH Mustaqiem bin Hussain dalam setiap peringatan haul.

Diceritakan pula, suatu ketika, kiai Mustaqiem menerima nasib tak menyenangkan saat penjajahan Jepang. Bersama warga masyarakat yang lain, kiai kelahiran Keras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tahun 1901 itu, harus menghadapi penyiksaan sadis yang dilakukan penjajah Jepang. ‘'Saat itu, Mbah Mustaqiem disiksa dengan cara ditutup semua lubang yang ada di tubuhnya kecuali dua lubang hidungnya. Lalu, lubang hidung itu dimasuki selang dan dipompa.Setelah perutnya membesar, Jepang menginjak-injak dengan sepatu perangnya.Banyak rakyat kita yang akhirnya mati disiksa seperti ini,'' katanya.

Namun, tidak demikian yang terjadi pada diri Kiai Mustaqiem. Entah bagaimana  ceritanya, Jepang memasukkan selang tidak ke lubang hidung Kiai Mustaqiem. Tapi, selang itu justru dimasukkan ke lubang ‘sabuk othok' (ikat pinggang khas orang Jawa).Maka, selamatlah kiai Mustaqiem dari penyiksaan sadis yang dilakukan penjajah Jepang.‘'Begitulah Kiai Mustaqiem mempunyai kelebihan,'' kata KH Mudhofir.

Keistimewaan lainnya, Kiai Mustaqiem juga punya ilmu bela diri yang hebat.Kemampuan bela diri ini diketahui ketika Kiai ini ditantang silat seorang pendekar ulung.KH.Mustaqiem, ternyata, mampu meladeni tantangan itu dengan bersilat di atas empat tombak.‘'Beliau juga menguasai sedikitnya 40 bahasa asing,'' terang KH Mudhofir.

Tak pelak, santri-santrinya saat itu sampai dibuat heran karena tak pernah tahu kapan kiai yang wafat pada 1970 itu belajar bahasa asing.‘'Saat kedatangan tamu dari India, Mbah Mustaqiem juga bisa meladeni pembicaraan menggunakan bahasa India,'' ujarnya. Yang patut diteladani lagi, dalam setiap acara haul diungkapkan, meski tergolong Kiai berilmu tinggi, KH. Mustaqiem punya sikap tak suka menyombongkan diri. Faktanya, suatu hari, ada Kiai besar (Syekh Abdul Rozaq) yang akan berguru kepadanya. Namun, KH Mustaqiem justru bersikap sebaliknya.  Beliau malah akan berguru kepada Syekh Abdul Rozaq. ‘'Akhirnya, kedua Kiai besar itu rebutan untuk menjadi murid,'' ungkapnya.           

Sepeninggal Kiai Mustaqiem, perjuangan Pondok Peta diwariskan kepada salah seorang putranya, KH Abdul Djalil Mustaqiem. Sayang, Kiai Abdul Djalil yang tak kalah kharismatik dengan sang ayah itu, Jumat (7/1/2005) lalu sudah keburu dipanggil Allah SWT. Sebagai penerus perjuangannya, kini Pondok Peta diasuh Gus Salladien, salah seorang putra Kiai Abdul Djalil Mustaqiem yang usianya baru sekitar 29 tahun.            

Sebagai kiai kharismatik, kediaman Kiai Djalil hampir tak pernah sepi dari kunjungan tokoh-tokoh politik lokal maupun nasional. Menjelang Pemilu legislatif dan Pemilu presiden 2004 lalu, misalnya, kediaman Kiai Djalil banyak menjadi singgahan tokoh-tokoh politik nasional.            

Saat itu, beberapa tokoh nasional yang berkunjung ke kediaman Kiai Djalil, di antaranya, Nurcholis Madjid (Cak Nur), mantan Wapres, Try Soetrisno, Amien Rais, Yusuf Kalla dan tentu saja KH Abdurrohman Wahid (Gus Dur) yang sudah tak terbilang jumlahnya mendatangi pondok Kiai Djalil.

Keterangan foto : Kiai Abdul Djalil saat menerima kunjungan mantan Wapres Try Soetrisno bersama istrinya, sebelum Pemilu 2004 lalu. Saat itu, Try Soetrisno juga merayakan ulang tahunnya di kediaman Kiai Djalil.Peringatan haul ke-38 Hadhratus Syaikh Mustaqim bin Husein, haul ke-20 Nyai Hj. Sa’diyah binti H. Rois dan haul ke-3 Hadhratus Syaikh Abdul Jalil Mustaqim untuk tahun 2008 ini jatuh pada hari Minggu kemarin tanggal 13 Januari 2008.

Pada Haul kali ini saya menghadirinya dengan memutuskan memilih berangkat bersama rombongan jamaah pengajian Cahaya Ilahi Surabaya dengan menggunakan bis mini.Kami berangkat dari rumah ketua kelompok Surabaya yaitu Ibu Hj. Wiwik Malik di daerah Pepelegi Sidoarjo dengan anggota rombongan kurang lebih 30 orang.Alhamdulillah perjalanan dapat ditempuh dengan selamat dan lancar dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Berangkat jam 6 dan sampai di kota Tulungagung jam 9.
Pada awalnya, semestinya sesampainya di Tulungagung kami akan bergabung terlebih dahulu dengan jamaah Syaikh Luqman Jakarta, baru kemudian berangkat bersama-sama untuk ziarah ke makam Pangeran Benowo di Bedalem Tulungagung, tetapi ternyata jamaah Syaikh Luqman berangkat terlebih dahulu dan menanti rombongan kami di Bedalem.
Description: http://bp2.blogger.com/_ezjJj8mso_Y/R6VPGSKGYoI/AAAAAAAAAD0/hpKycuxvqLw/s200/Bedalem.jpgInilah pertama kalinya saya ziarah di makam Pangeran Benowo (Bedalem – Tulungagung), sosok seorang pangeran yang meninggalkan kerajaan setelah terjadinya berbagai intrik perebutan kekuasan di sekitar peralihan kerajaan Pajang [dengan rajanya Sultan Hadiwijaya (ayahanda Pangeran Benowo) yang pada masa mudanya dikenal dengan nama Mas Karebet atau Joko Tingkir masih keturunan Prabu Brawijaya V (raja Majapahit terakhir sebelum beralih ke kerajaan Islam Demak yang dipimpin R. Patah)] ke Mataram [dengan rajanya R. Sutawijaya / Panemabahan Senapati (masih termasuk putera angkat Sultan Hadiwijaya)]. Pangeran Benowo kembali ke khittah, yaitu meniti jalan ke dalam diri untuk menemukan kesejatian yang hakiki dengan laku lampah seorang sufi sambil terus berdakwah, mendirikan pesantren di sepanjang jalan yang dilalui. Peralihan kekuasan Pajang ke Mataram inilah yang merupakan titik awal pudarnya Islam dengan tauhidnya yang dirintis sejak berdirinya kerajaan Islam Demak menjadi tercampuri dengan adanya keyakinan terhadap kekuasaan Ratu Kidul sejak berdirinya Mataram.Berganti pula orientasi kewilayahannya, yaitu dari kerajaan Maritim sejak era Demak (terbukti dari berbagai ekspedisi kapal-kapal Demak termasuk juga terlibat secara aktif mengusir bangsa Portugis dengan mengirim kapal-kapal perang ke selat Malaka) yang terus menurun sampai era Pajang dan akhirnya benar-benar berubah menjadi kerajaan Agraris pada era Mataram.
Setelah dari makam Pangeran Benowo, semula rombongan Surabaya berencana akan berziarah ke makam Syaikh Syamsudin atau dikenal penduduk dengan sebutan mBah Suryo yang terletak di pantai Popoh, tetapi karena keterbatasan waktu rencana tersebut tidak jadi dilaksanakan. Rombongan langsung menuju hotel untuk beristirahat. Sampai di hotel sekitar pukul 12 siang dan terlihat di berbagai sudut jalan akses menuju pondok PETA sudah terpasang sound system, spanduk, umbul-umbul dan terop/tenda, juga petugas/panitia (jumlah panitia + 2.500 orang) sudah tersebar di berbagai sudut untuk kelancaran acara haul. Tamu-tamu pun sudah mulai berdatangan.Saat itu acara khataman Qur’an sudah dimulai.
Menjelang saat Maghrib, jamaah Surabaya yang kebetulan berangkat berombongan bergerak masuk ke pondok untuk secara langsung mengikuti acara inti haul. Jamaah yang datang membludak, mulai lantai dasar sampai lantai 3 penuh sesak jamaah, belum lagi yang di luar di jalan-jalan sepanjang dan yang menuju ke arah pondok, penuh sesak oleh jamaah yang datang dari berbagai penjuru tanah air yang menurut informasi panitia jumlahnya mencapai belasan ribu.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia, maulid diba’, tahlil, manaqib Syaikh Abil Hasan asy Syadzili, manaqib Syaikh Mustaqim bin Husein, manaqib Syaikh Abdul Jalil Mustaqim dan mauizhoh hasanah.
Untuk sambutan dari Panitia, disampaikan oleh Bapak Moh. Athiyah S.H., yang kebetulan juga menjabat sebagai Wakil Bupati Tuluangagung, mewakili keluarga Pondok PETA.
Description: http://bp1.blogger.com/_ezjJj8mso_Y/R6VPVCKGYpI/AAAAAAAAAD8/yzpbnmxhf6U/s200/Syek+Luqman.jpgManaqib Syekh Abil Hasan asy Syadzili disampaikah oleh Syekh Luqman Hakim, MA.Syekh Luqman menguraikan secara singkat perjalanan asy Syekh mulai kelahiran, pencarian seorang mursyid, mengalami berbagai cobaan fitnah, murid-muridnya sampai saat beliau memperoleh warisan Quthb. Thoriqot yang dinisbahkan pada nama Beliau banyak tersebar luas di seluruh penjuru dunia, terutama di Mesir, juga sampai Eropa, Asia, Afrika dan Asia. Selain dikenal dengan nama Thoriqot Syadziliyah, juga dikenal dengan nama Syadzaliyah dan di Palestina dikenal dengan nama Syadzuliyah dengan salah satu mursyidnya sekaligus sebagai pejuang Palestina yaitu Syekh Ahmad Yasin. Berkaitan dengan nama Syadziliyah itu sendiri merupakan sustu kekhususan dari Allah, dimana apa yang ada di thoriqot ini tidak ditemui di thoriqot yang lain. Dikisahkan pada suatu ketika dalam fana'nya, asy Syekh Abil Hasan pernah mengemukakan sebuah pertanyaan kepada Allah SWT, "Ya Robb, mengapa nama Syadzilah Engkau kaitkan dengan namaku ?" Maka, dikatakan kepadaku, "Ya Ali, Aku tidak menamakan engkau dengan nama asy Syadzily, tetapi asy Syaadz-ly (penekanan kata pada "dz") yang artinya jarang (langka), yaitu karena keistimewaanmu dalam menyatu untuk berkhidmat demi untukKu dan demi cinta kepada-Ku." Salah satu keunikan yang tidak terdapat di thoriqot lain adalah masalah robitoh mursyid, dimana dalam khasanah Syadziliyah mulai dulu pada zamanny asy Syekh abil Hasan, tidak dikenal dan bahkan dilarang robitoh dengan membayangkan wajah guru. Dikisahkan oleh Syekh Luqman, dulu saat Syekh Abdul Jalil Mustaqim masih sugeng, kebetulan ketika itu Syekh Luqman sowan, ada salah seorang putra kiai dari Ponorogo yang merupakan mursyid thoriqot naqshabandi memohon baiat kepada Syekh Abdul Jalil Mustaqim. Tetapi ditolak oleh Beliau dan tetap disuruh mengamalkan wirid yang dari abahnya tersebut tetapi tanpa robitoh mursyid, karena kalau sedang wirid dengan membayangkan wajah guru kemudian pada saat itu kebetulan Allah menghendaki mencabut nyawa berarti yang terbayang adalah makhluk dan bukan hadirnya hati pada Allah, berarti termasuk khusnul khotimah atau su’ul khotimah ? Nah untuk thoriqot Syadziliyah yang diajarkan di Pondok PETA Tulungagung, menurut Syekh Luqman adalah yang paling lengkap sebagaimana yang diwariskan oleh Syekh Abil Hasan asy Syadzili.Untuk santri-santri PETA tidak boleh menanyakan fadhilah, manfaat, arti dari suatu amalan karena disamping mengurangi keikhlasan dalam pengamalannya juga pada hakikatnya semuanya artinya adalah ALLAH. Hijaiyah mulai Alif sampai Ya juga merupakan nama Allah, sehingga apa pun yang dibaca pada akhirnya semuanya kembali pada arti Allah juga. Untuk itu semua santri PETA diajarkan untuk selalu melatih hati agar terus berdzikir/bunyi : Allah... Allah... terus. Bagi murid-murid yang sebelumnya punya amalan lain, setelah baiat thoriqot Syadziliyah harus melepaskan semua amalannya, karena thoriqot ini lebih agung dari itu semua. Andaikata suatu saat ada yang minta tolong ya harus ditolong tidak boleh ditolak, misalnya ada orang yang sakit tumor minta tolong diobati, ya harus ditolong, didoakan sesuai apa yang ada di hati.
Manaqib Syekh Mustaqim bin Husein disampaikan oleh K.H. Mudhofir Sukhaimi, bahwa sejak usia 18 tahun, Syekh Mustaqim sudah hidup hatinya dengan sendirinya dengan dzikir Allah secara terus menerus. Syekh Mustaqim masih merupakan salah satu keturunan ke-19 Mbah Panjalu [Sayyit Ali bin Muhammad bin Umarsalah satu waliyullah penyebar Islam di bumi Indonesia pada masa Prabu Siliwangi, merupakan salah satu guru dari Prabu Kian Santang dikenal sebagai putra dari Prabu Siliwangi dan ada juga yang mengatakan Panglima Perang Prabu Siliwangi, pen.] yang maqomnya terletak di Ciamis Jawa Barat. Nah, salah satu putri dari Syekh Mustaqim ada yang diberi nama Thowillah Sumaranten. Ternyata nama Sumaranten diambilkan dari nama salah satu keturunan ke-14 Mbah Panjalu yang dikenal sebagai sosok pendekar sakti pada jamannya yang mempunyai kemampuan berjalan di atas air. Dikisahkan oleh Yai Mudhofir bahwa pada masa penjajahan Jepang, kiai-kiai banyak yang mengalami penyiksaan yang sangat sadis. Demikian juga dengan Syekh Mustaqim yang mengalami penyiksaan oleh Jepang, yaitu dengan cara ditutup semua lubang yang ada di tubuhnya kecuali dua lubang hidungnya. Lalu, lubang hidung itu dimasuki selang dan dipompa.Setelah perutnya membesar, Jepang menginjak-injak dengan sepatu perangnya. Banyak kiai yang mati dengan cara seperti ini. Alhamdulillah, Syekh Mustaqim tidak sampai mengalami yang demikian karena ternyata tentara Jepang bukannya memasukkan selang ke lubang hidung melainkan dimasukkan ke lubang ‘sabuk othok' (ikat pinggang khas orang Jawa) sehingga selamat.Pernah suatu saat Syekh Mustaqim ditantang silat seorang pendekar ulung, ternyata Beliau mampu juga meladeni tantangan itu dengan bersilat di atas empat tombak. Salah satu keistimewaan Syekh Mustaqim yang lain adalah kemampuan Beliau dalam penguasaan bahasa asing, sedikitnya 40 bahasa. Salah satunya terbukti dari salah seorang santri Beliau yang mengetahui Beliau berbicara dengan tamu yang datang dari India menggunakan bahasa India. Salah satu sikap Beliau yang perlu kita teladani adalah kerendahhatian Beliau, pernah suatu hari ada seorang kiai besar yaitu Syekh Abdul Rozaq yang akan berguru kepada Syekh Mustaqim, tetapi yang terjadi malah sebaliknya yaitu Syekh Mustaqim malah yang akan berguru kepada Syekh Abdul Rozaq, sehingga akhirnya kedua Kiai besar itu rebutan untuk menjadi murid.
Manaqib Syekh Abdul Jalil Mustaqim disampaikan oleh salah satu kiai (lupa namanya) yang merupakan teman Syekh Abdul Jalil sewaktu masih menuntut ilmu di Pondok Kiai Zainudin Mojosari.Beliau mengisahkan secara singkat tentang keistimewaan Syekh Abdul Jalil Mustaqim di antaranya adalah keistiqomahan dalam menjaga wudhu, yaitu dalam arti bahwa ketika wudhu batal, maka cepat-cepat memperbarui wudhu lagi.Satu-satunya santri yang dipanggil mbah ya hanya Syekh Jalil itu.Di pondok Kyai Zainudin itulah banyak menelurkan ulama-ulama besar.Hal tersebut tidak lepas dari ketaatan dan ketawadhuan para santri kepada gurunya yang berbuah barakah.
Mauizhoh Hasanah yang pertama disampaikan oleh K.H. Chaedar Muhaiminan dari pondok pesantren Bambu Runcing, Parakan - Temanggung, beliau salah seorang putra dari ulama besar sekaligus juga seorang mursyid Syadziliyah, almarhum K.H. Muhaiminan Gunardo.Pada intinya beliau mengupas tentang thoriqot Syadziliyah yang diajarkan oleh Syekh Mustaqim dan Syekh Jalil.
Mauizhoh Hasanah yang kedua disampaikan oleh Habaib Umar Muthohar dari Semarang. Dengan gaya yang kocak dan bahasa yang sederhana, Beliau menyampaikan banyak hal tetapi pada intinya adalah bahwa peringatan HAUL itu bukannya untuk membesar-besarkan sosok ulama yang sudah meninggal tersebut karena posisinya sudah jelas khusnul khotimah. Yang masalah adalah justru kita-kita ini yang belum tentu khusnul khotimah.Untuk itu dalam peringatan Haul tersebut kita harus dapat mengambil hikmah dari perjuangan para ulama terdahulu untuk kita teladani dan yang pasti insya Allah selalu ada barakah Allah yang mengalir pada diri kita yang menghadirinya.
Setelah selesai acara mauizhoh hasanah, kami kembali ke hotel untuk istirahat.Jalan di luar pondok yang semula dipadati oleh belasan ribu jamaah terlihat sangat kotor karena banyak terdapat sisa makanan, bungkus makanan dan minuman (berapa pun jumlah jamaah, Pondok PETA selalu membagikan nasi dan air kemasan dan semua selalu kebagian) ditambah lagi bercampur air hujan yang mengguyur. Tetapi hal itu ternyata sudah diantisipasi oleh panitia dengan pembagian tugas, yaitu jamaah dari Blitar bertugas membersihkan mulai depan pondok ke arah Timur dan jamaah dari Trenggalek bertugas membersihakan mulai depan pondok ke arah Barat. Peralatannya pun sudah tersedia dalam jumlah yang cukup. Ditambah lagi dengan para petugas kebersihan kota yang memang sudah standby. Maka hanya dalam tempo satu jam kondisinya sudah kembali bersih.
Esok paginya, hari Senin, tanggal 14 Januari 2008, setelah sarapan pagi kami kembali masuk Pondok untuk aurodan di maqom Syekh Mustaqim dan Syek Jalil bersama jamaah dari Jakarta yang datang secara berombongan. Selesai aurodan sambil dijamu sarapan pagi khas pondok, kami semua mendapat wejangan dari Syekh Abdul Ghofur Mustaqim, kakak dari Syekh Abdul Jalil Mustaqim. Tetapi sebelumnya kami semua diingatkan oleh Syekh Luqman agar selama mendengar wejanagan dari mbah Ghofur, tidak berhenti hati harus dzikir : Allah... Allah...
Wejangan Syekh Abdul Ghofur Mustaqim
Description: http://bp3.blogger.com/_ezjJj8mso_Y/R6VPhiKGYqI/AAAAAAAAAEE/8sq-kAdhti8/s200/Mbah+Ghofur.jpgMurid-murid PETA harus banyak bersyukur karena sudah menemukan guru/mursyid yang kamil dan mukammil, seorang wali yang muryid, yang membimbing menyempurnakan agama dengan jalan ihsan setelah iman dan islam. Dikatakan Beliau pengertian ihsan secara sederhana bahwa kita tahu Tuhan tetapi jika tidak sesungguhnya Tuhan tahu kita.Nah, sejarah thoriqot yang merupakan amaliyah tasawuf tersebut dimulai sejak wahyu yang pertama turun. Seperti diketahui, Rasulullah sejak usia belasan tahun sudah tidak cocok dengan kehidupan di kota Mekah yang penuh dengan penyembahan berhala, sehingga Rasulullah setiap hari selalu menyepi/khalwat ke Gua Hira dalam rangka mencari Tuhan yang sejati. Sehingga tiba saat wahyu yang pertama turun, Rasulullah dikenalkan dengan namadzat Tuhan yaitu ALLAH (lafal Allah). Malaikat Jibril menyuruh Rasulullah membaca lafal ALLAH sebagai nama dzat Tuhan. Tetapi Rasululullah mengatakan tidak bisa membaca, hal tersebut diulang sampai 3 kali. Kemudian malaikat Jibril merangkul Rasulullah dan membimbing beliau sebagaimana wahyu pertama “Iqraa bismi rabbikalladzi kholaq” – bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan – nama tuhan yang dimaksud adalah ALLAH. Maka sejak saat itu bergemuruh dada Rasulullah – qolbu, ruh dan sirrnya – dengan dzikir Allah secara terus menerus sehingga tersingkap segala pengetahuan tentang Allah, seluruh hakikat semesta.Itulah yang pertama kali diperintahkan yaitu dzikir.Lha, kalau ada yang menanyakan kenap thoriqot itu bermacam-macam kalau memang berasal dari Rasulullah, maka dijawab saja dengan kenapa dalam ilmu fiqih para fuqoha juga bermacam-macam mazhabnya, ada yang bermazhab Maliki, Hanafi, Hambali dan Syafi’i. Beralih ke masalah lain, mbah Ghofur menceritakan tentang salah seorang murid Syekh Mustaqim yaitu mbah Mubin. Suatu hari mbah Taqim memerintahkan mbah Mubin untuk menyelidiki situasi dari negara-negara yang terlibat dalam Perang Dunia II.Maka berangkatlah mbah Mubin dengan menunggang kuda ke Jerman, Inggris dan Amerika.Mbah Mubin pun pulang dengan segenap informasi yang perlu dan dengan membawa bukti mata uang dari negara yang dikunjunginya.Salah satu informasi yang disampaikan kepada mbah Taqim adalah bahwa negara Jerman mempunyai bom atom yang disimpan di tempat rahasia dan diletakkan pada kapal selam.Kemudian mbah Taqim ingin mengetahui wajah Hitler, maka secara batin mbah Mubin memproyeksikan wajah Hitler dan mbah Taqim mengatakan kalau lebih kejam Jepang.Hal ini terbukti dari kekejaman yang dilakukan Jepang pada masa penjajahan di Indonesia.Seperti yang diceritakan pada saat Haul tentang penyiksaan Jepang kepada para kiyai. Bukan itu saja, pernah mbah Taqim disiksa dengan cara diangkat sampai ketinggian kurang lebih 20 m dan langsung dijatuhkan ke bawah. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, mbah Taqim tidak sampai meninggal dan bahkan diulang-ulang sampai sekitar 27 kali.Semua selamat.Sesungguhnya yang diangkat dan dijatuhkan oleh tentara Jepang itu adalah hanya kaos yang dekenakan mbah Taqim tetapi rasanya seperti mbah Taqim sendiri, sedangkan mbah Taqim sendiri duduk-duduk di bawah.Ada lagi salah satu murid Syekh Mustaqim yang mantan anggota PKI yang telah bertobat.Diberi amalan ayat Kursy. Dari amalan itu saja, beliau menjadi alim dan dibukakan kasyfnya oleh Allah, sehingga apa yang dikatakannya biasanya tepat. Teman-temannya sendiri pun tidak ada yang mempercayainya sampai suatu saat ketika truk material batu yang mestinya mengirim ke Pondok terlambat datangnya hingga malam hari sehingga tidak ada tenaga untuk langsir.Maka mbah Taqim memerintahkan anak dapur untuk melangsir batu-batu tersebut padahal secara fisik anak dapur kecil-kecil. Kebetulan pada saat itu sang murid itu bersama teman-temannya sowan ke mbah Taqim. Mengetahui hal tersebut beliaunya berkomentar, “Wah, kalau begitu caranya ya cepat selesai”.Teman-temannya tidak ada yang percaya, padahal beliau melihat pada diri setiap anak dapur yang mengangkat batu-batu tersebut dibantu oleh malaikat. Karena temannya tidak percaya, sang murid tersebut memanggil temannya dan memerintahkan mendekatkan telinganya pada telinga sang murid. Seketika kagetlah temannya karena yang didengar dari telinga sang murid tersebut adalah dzikirnya Syekh Mustaqim. Itulah, menurut mbah Ghofur ya memang seperti itulah sufi, insya Allah selalu diberikan keselamatan oleh Allah. Mbah Ghofur juga memesankan bahwa bilamana ada sesuatu pertanda atau mungkin ilham atau apa pun juga harus dihaturkan pada mursyid dan tidak boleh ditafsiri sendiri, karena Beliau pada masa muda dulu pernah mengalami hal tersebut, dimana mbah Ghofur sangat ingin tahu apakah benar Beliau masih keturunannya Mbah Panjalu. Saat berada di maqom Mbah Panjalu, semua yang berziarah di situ disalami oleh Mbah panjalu, tetapi hanya Mbah Ghofur saja yang tidak disalami, dilewati.Hal tersebut diartikan sendiri oleh mbah Ghofur bahwa beliau masih sangat jauh dari kebaikan, merasa menjadi orang terjahat di dunia sehingga langsung menangis dan istighfar secara luar biasa dalam waktu yang cukup lama. Hal tersebut menjadi pemikiran mbah Ghofur, sampai akhirnya suatu saat Syekh Mustaqim mengetahuinya dan mengatakan memang seharusnyalah hal itu terjadi, karena mbah Ghofur adalah keturunan dari Mbah Panjalu sehingga kalau ke sana seperti ke rumahnya sendiri sehingga tidak disalami, sedangkan yang disalami hanya para tamu. Saatitulah baru memahami apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mbah Ghofur tetap merasakan hikmahnya dengan istighfarnya yang luar biasa sungguh-sungguh tersebut.
Setelah menerima wejangan, kami semua kembali ke hotel untuk berkemas, setelah sebelumnya menerima bekal garam berasma’.Rencana perjalanan berikutnya adalah silaturahim ke mbah Sukri (salah satu murid mbah Taqim yang dikenal dengan kemakbulan doanya), silaturahim ke nDalemnya mbah Ghofur (di Mantenan, Blitar), ziarah ke maqom Syekh Abdul Qodir al Kadiri dan langsung pulang menuju Surabaya.
Description: http://bp0.blogger.com/_ezjJj8mso_Y/R6VPzyKGYrI/AAAAAAAAAEM/4kL_L4KYr1I/s200/Mbah+SUkri.jpgMbah Sukri, satu sosok hamba Allah yang sangat bersahaya, adalah salah satu murid dari Syekh Mustaqim bin Husein yang diberikan oleh Allah kemuliaan yang tampak dalam makbulnya doa beliau. Mantan orang sakti sebelum berthoriqot, tetapi setelah berthoriqot malah tambah luar biasa.Kesempatan yang langka untuk bisa bertemu dengan beliau, sehingga seluruh rombongan menghadap satu-satu secara bergiliran mohon didoakan dengan harapan hajatnya terkabul.Untuk tiap orang, biasanya durasi doanya mencapai 10-15 menit, sehingga bisa dihitung sendiri berapa waktu yang diperlukan untuk mendoakan sekitar 32 orang.Tempat tinggal mbah Sukri masih di kawasan Tulungagung.
Description: http://bp2.blogger.com/_ezjJj8mso_Y/R6VQJSKGYsI/AAAAAAAAAEU/NosmtossCNI/s200/Blitar.jpgnDalem Syekh Abdul Ghofur Mustaqim, terletah di tlatah Blitar tepatnya di Mantenan Kecamatan Udan Awu. Di bagian depan rumah terdapat halaman yang luas, di dinding bagian teras rumah terdapat relief lukisan alam yang terdapat tulisan dalam huruf arab yaitu salah satu hadis Nabi yang artinya : tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak. Rumah yang bersih dan tertata rapi.Di bagian belakang terlihat bangunan masjid yang menjulang.Kesejukan, kedamaian dan ketenangan terasa mengaliri seluruh tubuh dan jiwa, khas pancaran rumah seorang auliya’.Dalam pertemuan tersebut mbah Ghofur menceritakan banyak hal di antaranya mengulangi lagi pengalaman mbah Taqim ketika mengalami penyiksaan tentara Jepang dan tentang adu silat dengan salah seorang pendekar ulung di atas tonggak.Diulangi lagi oleh mbah Ghofur tentang tidak bolehnya murid mengamalkan seluruh amalan sebelum berthoriqot khususnya di thoriqot Sadziliyah.“Wong Syadziliyah iku samar”, kata Beliau. Tentang Syekh Mustaqim bin Husein, mbah Ghofur menekankan bahwa beliau itu benar-benar mastur – ditutupi oleh Allah kemuliannya hanya dikenal sebagai kiai langgar, sedangkan yang mashur/terkenal yang hebat-hebat malah ditampakkan pada murid-muridnya, sehingga bisa dibalik : kalau muridnya saja hebat-hebat apalagi gurunya. Tetapi cerita-cerita itu baru mulai terungkap setelah mbah Taqim meninggal dunia, sebelum itu benar-benar tertutup, tidak banyak yang tahu.Murid-muridnya dulu sebelum berbaiat banyak yang sakti-sakti, sehingga untuk melepas ilmunya banyak yang direndam di popoh.Hal tersebut banyak dipertanyakan kiai lainnya yang tidak mengetahui, sehingga sempat ada yang mengatakan sesat. Tetapi mbah Taqim mengatakan kepada mbah Ghofur kalau ditanya untuk apa ke Popoh, disuruh menjawab : PIKNIK. Mbah Ghofur juga mengisahkan tentang pengalaman Beliau bersama Gus Dur saat masih menjabat presiden, ketika itu di istana negara didampingi juga oleh Syekh Luqman dan Syekhina Sholahuddin (off the record). Ada juga kisah tentang mursyid suatu thoriqot yang mengklaim bahwa mbah Taqim mengambil Thoriqot tersebut di pondok tersebut, padahal sesungguhnya selama 20 hari mbah Taqim di pondok tersebut adalah untuk memindah jin yang mengganggu santri-santri pondok yang suluk. Ada satu kisah lagi yang membuat mbah Taqim sedikit terbuka kewaliyannya. Kisah ini terungkap berawal dari utusan Kyai Dzajuli (Ploso, Kediri; ayah Gus Miek almarhum) yang bernama Bachtiar yang diutus menemui mbah Ghofur unutuk mengundang mbah Ghofur menghadap Kyai Dzajuli. Ternyata ada kisah tentang abahnya mbah Ghofur, yaitu Syekh Mustaqim bin Husein. Ketika itu Kyai Dzajuli merupakan seseorang yang mashur, termasuk kyai besar pendiri dan pengasuh suatu pondok pesantren di Ploso Kediri. Kyai Dzajuli ketika itu belumlah yakin terhadap thoriqot apalagi terhadap perlunya seorang mursyid, sampai beliau tergerak ketika membaca ayat Qur’an :manyahdillahu fahuwal muhtadi, wa manyudhil falan tajidalahu waliyyan mursyidan - siapa yang diberi petunjuk oleh Allah dialah yang mendapat petunjuk; dan siapa yang disesatkan-Nya maka tidak akan mendapatkan seorang waliy yang mursyid. Berarti waliy yang mursyid itu benar-benar ada yaitu seorang wali yang memiliki irsyad, memiliki hak istimewa dari Allah sebagai pewaris Nabi dalam mendidik ruhani manusia, begitu pemikiran Kyai Dzajuli. Lalu siapa yang saat itu menyandang posisi sebagai wali mursyid ?Maka Kyai Dzajuli pun memohon petunjuk Allah melalui shalat istikhoroh. Shalat pertama belum mendapat gambaran apa pun, begitu juga shalat yang kedua sampai keempat kalinya. Baru shalat istikhoroh yang kelima mulai ada gambaran yang samar-samar, yang keenam lebih jelas dan yang ketujuh langsung jelas, ternyata posisi wali yang mursyid disandang oleh mbah Taqim.Maka Kyai Dzajuli pun segera berangkat ke Kauman Tulungagung untuk menemui mbah Taqim.Kedatangan kyai besar seperti Kyai Dzajuli disambut dengan takzim oleh mbah Taqim yang tetap tawadhu.Kyai Dzajuli mengutarakan niatnya untuk berguru, tetapi mbah Taqim menolaknya dengan alasan tidak pantas hal demikian terjadi, bukankah Kyai Dzajuli adalah kyai besar seharusnyalah mbah Taqim yang berguru kepada Kyai Dzajuli.Akhirnya Kyai Dzajuli mengatakan bahwa tidak apa-apa kalau mbah Taqim tidak mau menerima, tapi harus bertanggung jawab kalau Kyai Dzajuli sesat.Maka Kyai Dzajuli mengutarakan ayat tersebut di atas, bahwa kalau beliau tidak mempunyai guru mursyid yang wali berarti beliau termasuk yang tersesat. Begitulah akhirnya Kyai Dzajuli pun berbaiat kepada Syekh Mustaqim bin Husein. Kisah-kisah semacam inilah yang baru terbuka setelah meninggalnya mbah Taqim, sebagai bukti bahwa mbah Taqim benar-benar kekasih Allah, seorang yang dicintai oleh Allah, sehingga Allah menutupi kemuliannya karena Allah pun merasa cemburu kalau ada makhlukNya yang tahu.Demikianlah sebagian dari pertemuan dengan mbah Ghofur di kediaman Beliau yang kemudian ditutup dengan do’a dari Beliau untuk seluruh rombongan.Alhamdulillah.
Maqom Syekh Abdul Qodir al Kadiri, merupakan persinggahan ziarah berikutnya setelah dari kediaman mbah Ghofur. Terletak di kota Kediri, membaur dan berada di sudut pemakaman umum sehinga tidak tampak bahwa yang dimakamkan di situ adalah salah seorang waliyullah. Nama Syekh Abdul Qodir al Kadiri bisa kita jumpai dalam hadhorot Hizb Asfa’. Selesai ziarah, bertepatan dengan waktu menjelang maghrib dan karena sebenarnya sudah agak lama perut bersabar menuntut jatahnya, maka banyak di antara anggota rombongan langsung bertebaran di berbagai sudut jalan yang bisa dijangkau untuk menghilangkan rasa lapar. Sepiring nasi pecel Kediri dan segelas teh hangat, sungguh sangat nikmat disantap di kala lapar. Benarlah kata orang tua dulu bahawa mangan kuwi lawuhe luwe – makan itu ikannya lapar, karena dalam kondisi lapar, apa pun yang kita makan akan terasa nikmat sehingga lebih terasa syukurnya. Makan setelah kenyang dan berhenti makan sebelum kenyang, begitu Rasulullah mengajarkan.
Dari Kediri, rombongan langsung meluncur kembali ke Surabaya dengan sejuta hikmah yang terpatri di dada yang perlu diendapkan, direnungkan dan diejawantahkan dalam rangka mencari keridhoan Allah dunia-akhirat. Sekitar pukul setengah sepuluh malam, rombongan tiba kembali di rumah Bu Wiwik dan langsung menyebar kembali pulang ke kediaman masing-masing.
Capek memang, tetapi ada suatu kesegaran ruhani yang semoga juga terpancar dan meyelimuti keluarga di rumah.Aamiin.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar